Perjuangan Masa Kini

March 23rd, 2008 by poetra

(diposting juga di www.ipoet.net)

Pada awalnya saya ingin membahas masalah politik dan negara dalam
kerangka yang lebih serius dan terstruktur, akan tetapi urung saya
lakukan karena saya merasa ada pihak/perorangan yang lebih berkompeten
membahasnya secara sedemikian rapi, dan saya juga tidak memiliki cukup
waktu untuk riset mendalam. Hehe.

Akan tetapi, sebagai warga negara yang merasakan kegelisahan melihat
semakin parahnya kondisi negara kita tercinta saat ini, muncul
keinginan untuk membahas masalah ini. Kita memang berada di dalam
krisis multi-dimensional, tetapi kita juga pasti bisa mengurai
masalah-masalah yang ada secara pelan-pelan. Bobroknya moral
pejabat-pejabat kita, tidak lantas kemudian kita akan berpangku-tangan
saja, bukan?

Masalah yang sangat mengganggu di kepala saya adalah, bahwa tingkat
pengangguran kita sedemikian tingginya. Ini tentu saja bukan hal yang
baik, karena tingkat pengangguran berbanding lurus dengan kemiskinan,
dan kemiskinan mau tak mau berhubungan dekat dengan aspek
bermasyarakat. Kriminalitas adalah salah satunya. Sehingga, sedemikian
pentingnya masalah ini untuk kita perhatikan. Semakin banyaknya
pengangguran di negara ini akan berakibat semakin banyak perut-perut
lapar, dan dalam keadaan lapar orang tidak bisa berpikir jernih.

Begitulah kurang lebih yang saya tangkap dari cara berpikir para
petinggi kita. Rakyat harus diberi pekerjaan, agar mereka tidak
kelaparan. Dan cara yang paling gampang untuk menanggulanginya adalah,
mengundang sebanyak-banyaknya investor asing untuk menanamkan uangnya
di Indonesia. Benar begitu?

TIDAK.

Semakin banyak investor yang masuk dan menanamkan uangnya, berarti semakin banyak juga MNC
–yang notabene pastilah kapitalis– ada di negara ini. Tanpa harus
menjadi pakar ekonomi pun saya tahu, bahwa ada kompromi-kompromi
tertentu yang dilakukan. Termasuk dulu ketika salah seorang petinggi
kita yang juga pengusaha di negara ini, begitu mendukung untuk merevisi
Undang-undang tenaga kerja (entah terealisasi atau tidak, saya tidak
terlalu mengikuti perkembangannya).

Apakah mereka diatas sana sudah kehilangan hati? Sedemikian
pentingnya kah investor asing sehingga harus mengorbankan rakyat kita
sendiri? Bekerja menjadi buruh saja sudah cukup sulit, apakah masih
perlu ditambah lagi dengan kenyataan mereka tidak akan mendapatkan
jaminan kesehatan, uang pensiun, dan tidak bisa menghilangkan perasaan
takut kehilangan lapangan pekerjaan? Bekerja kontrak selama lima tahun,
kemudian dapat diperpanjang lagi sekeinginan petinggi perusahaan? Kalau
dipecat dengan alasan perekonomian sulit, habislah sudah.

Sebegitu tidak punya nuraninya kah para pejabat di negara ini? Hanya untuk mempertebal kantong sendiri, dan atas nama track record politik?

Menurut hemat saya, cara untuk menyelamatkan perekonomian negara ini
tanpa harus berbicara masalah neraca dan omong kosong ekonomi makro
adalah dengan mengurangi ketergantungan masyarakat kepada negara. Mau
suku bunga kita mencapai angka terbaik sepanjang masa, tetap tidak akan
memiliki pengaruh besar kepada rakyat kecil. Menolong bagi perusahaan
besar sih iya. Yang kaya makin kaya, yang susah makin tercekik.

Lalu caranya bagaimana? Alokasikan saja dana dengan benar untuk membenahi sektor UKM. Awasi dana kreditnya dengan baik. Tanamkan kesadaran enterpreneurship
kepada rakyat, biayai, dan bantu mengembangkan usahanya. Dengan begitu,
angka pengangguran bisa berkurang, dan roda ekonomi masyarakat kecil
juga bisa berjalan dengan lancar. Jangan belum apa-apa, mau membuka
usaha sudah ditanyai segala macam tetek-bengek masalah SIUP, TDP, NPWP,
neraca perusahaan, dan lain-lain.

Saya sadar betul, bahwa sebagai negara demokrasi pajak adalah salah
satu sumber penghasilan negara. Tapi juga bukan rahasia lagi, kalau di
dirjen pajak sering ada istilah “alokasi akhir tahun”. Artinya apa?
Bahwa target yang diberikan pemerintah kepada ditjen pajak sering
melampaui target, dan uangnya harus “dialokasikan” untuk menghindari
surplus yang berlebihan. Karena surplus yang berlebihan akan berakibat
kepada naiknya target tahun berikutnya, dan itu tidak baik untuk
kinerja dirjen pajak. Tolong koreksi dengan bukti yang kongkrit kalau
saya salah.

Tentunya yang menjadi pertanyaan adalah mengapa pemerintah kita
lebih memilih investor asing sebagai pemecahan masalah dibanding
banting tulang memperbaiki sektor mikro? Analisa asal-asalan saya
sampai pada salah satu kesimpulan yang masuk akal, bahwa ini adalah
masalah grafik, masalah jangka pendek dan jangka panjang.

Jika ada banyak perusahaan yang bisa menyerap tenaga kerja, maka angka pengangguran akan turun dengan drastis, dan BPS bisa dengan tersenyum menyampaikan data bahwa angka kemiskinan menurun. Dengan begitu, track record
pemerintah bisa bersih, dan mereka bisa berkoar-koar kampanye dengan
omong kosong pada jaman mereka menjabat angka pengangguran menurun.
Sebaliknya kalau perbaikan ekonomi dicapai dengan memperkuat segmen
mikro, tentunya akan memakan waktu yang tidak sebentar, dan ketika
rakyat Indonesia sudah bisa mandiri dengan usaha kecilnya, mereka sudah
tidak menjabat.

Sekali lagi, mohon dikoreksi kalau logika dan analisa saya salah,
tapi akan lebih baik jika dikoreksi dengan asas kenyataan, dan bukan
teori ekonomi )

Salah satu yang perlu diperbaiki juga adalah, bahwa kita tidak dibesarkan dalam iklim enterpreneurship
yang cukup. Sedari kecil kita dididik dengan pemikiran bahwa masa depan
yang terjamin adalah dengan bekerja di tempat yang kecil kemungkinannya
bangkrut. Dengan demikian, pekerjaan sebagai PNS dan pegawai BUMN adalah pekerjaan yang diincar hampir semua sarjana yang baru lulus dari kampus.

Kemandirian yang sama juga kurang bisa diapresiasikan dengan baik
oleh pemerintah. Salah satu contoh yang paling menonjol menurut saya
adalah, anggaran belanja untuk LIPI (yang notabene isinya para peneliti
yang diharapkan menghasilkan penemuan yang berguna untuk bangsa) tidak
sampai angka satu trilun rupiah, berbeda jauh dengan anggaran ditjen
pajak yang sebesar Rp. 4,73 trilyun untuk tahun 2008.

Kita juga melegalkan tindakan korupsi di kalangan kita sendiri.
Menyogok sekian puluh juta untuk bisa menjadi pegawai negeri (walaupun
tidak semuanya demikian) menjadi hal yang lumrah. Begitu juga untuk
menjadi aparat negara. Dengan demikian juga, begitu yang bersangkutan
berhasil diterima menjadi pegawai negeri ataupun aparat negara, akan
ada pembenaran dari mencari “sampingan”, karena toh mereka tidak
mengeluarkan uang yang sedikit. Entah berapa hektar sawah dan sapi yang
tidak bersalah menjadi korban dalam proses ini.

Negara ini ada di tengah krisis multi-dimensional, akan tetapi
kemajuan membutuhkan pengorbanan. Sudah saatnya kita memperjuangkan
revolusi sosial, hingga suatu saat nanti anak cucu kita masih bisa
bangga mengaku sebagai bangsa Indonesia, yang masih memiliki kekayaan
alam yang melimpah ruah, dan disaat yang bersamaan juga bangga kepada
kita kakek-neneknya yang tidak menggadaikan warisan ibu pertiwi kepada
para kapitalis hanya demi lapangan kerja.

Apakah kita ingin terbangun di suatu hari nanti, dimana hutan kita
sudah gundul karena pembalakan liar yang tak kunjung bisa
ditanggulangi? Dimana kita tidak lagi memiliki cadangan minyak karena
sudah disedot habis oleh oil company yang semakin banyak?
Dimana kita hanya bisa bercerita bahwa dulu Tembagapura adalah bagian
dari negara kita yang kemudian meminta merdeka karena rakyatnya
ditembaki ketika mendulang emas di sungai limbah buangan freeport dan
ditembaki aparat?

Sekarang saatnya kita memilih, kemana masa depan kita akan dibawa.
Menjadi warga negara yang memiliki nasionalisme tidak diwujudkan dengan
wajib militer yang tidak jelas manfaatnya, tetapi berkorban dengan
mengikat perut dan bekerja sekuat tenaga dengan halal untuk memakmurkan
diri sendiri dan bukannya kapitalis yang mempekerjakan kita. Sudah
saatnya kita berjuang untuk membuka lapangan kerja, dan bukannya
mengharapkan lapangan kerja.

Saya adalah pemimpi yang skeptis untuk masalah ini. Tapi
bagaimanapun ini adalah mimpi saya, dan tentunya tidak akan terdengar
realistis jika saya ungkapkan ketika saya sedang berkampanye sebagai
calon presiden. Wahai kaum muda Indonesia, sudah siapkah kita ditulis
sejarah sebagai pejuang-pejuang era modern?

saatnya berhenti

July 16th, 2007 by poetra

Oh, hati yang bersedih.. dengan airmata kah engkau akan berbicara?
Ataukah engkau hanya berharap kepada kebahagiaan yang baru?

Oh, jiwa yang menyendiri.. kepada cintakah engkau bermimpi?
Atau hanya menunggu teman hidup yang setia?

Hai, kata-kata yang tidak pernah tersampaikan dengan baik..
Suatu saat nanti dunia akan mengerti, bahwa apa yang kau sampaikan itu sejati.
Walaupun sampai seribu tahun tidak akan ada yang mengerti.

Jangan menatap kembali, jangan berharap lagi.
Karena tak ada gunanya tenggelam dalam mimpi.
Karena tak ada yang salah dengan memilih.

Seperti remah-remah roti yang tersisa dari kemarin pagi,
biarkanlah lagi sebuah cerita pergi tertiup angin.

Sampai berjumpa lagi, sinar matahari sejati…

Kecuali untuk sebuah mimpi…

July 5th, 2007 by poetra

Terkadang, mimpi yang menjadi kenyataan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita bayangkan. Karena, dalam mimpi kita tidak menggunakan indera. Karena, dunia mimpi tidak sama dengan dunia nyata.

Meski begitu, seringkali sebuah mimpi yang menjadi nyata, ternyata adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Waktu kecil, saya sering berhayal, bahwa suatu saat nanti saya ingin pergi ke bintang, dan duduk-duduk disana untuk waktu yang cukup lama. Namun seiring berjalannya waktu, saya akhirnya tau bahwa bintang yang terlihat indah itu tidak lebih dari sebuah planet kecil yang tandus dan penuh dengan batu dan debu.

Tidak ada cahaya terang sama sekali disana. Disana gelap dan hampa.

Begitulah, belakangan ini pun saya banyak menemukan mimpi yang menjadi kenyataan. Hal-hal yang seolah-olah membuntuti saya ketika saya akan terbangun, dan ikut masuk ke dunia nyata melalui portal yang memisahkan dunia mimpi dan dunia nyata. Lalu apa rasanya?

Tidak semuanya sesuai dengan bayangan saya. Kebanyakan akan menjadi biasa-biasa saja, karena itu sudah bukan menjadi mimpi lagi, dan kita akan segera melupakannya karena kita punya mimpi-mimpi lain yang menunggu untuk diwujudkan.

Kecuali untuk satu hal. Kecuali untuk seseorang, lebih tepatnya.

Ketika akhirnya, seorang bidadari cantik yang hanya hidup di dalam dunia mimpi saya tersedot masuk ke dunia nyata, saya begitu terpana. Bukan sebuah euforia, karena rasanya lebih seperti mencicipi manna dan salwa di dunia.

Saya akhirnya memahaminya. Saya menaruh harapan terlalu besar untuk mimpi yang satu ini, sehingga saya takut untuk menjatuhkannya, dan saya akan siap untuk berkompromi dalam hal apapun. Jangan sampai dia kembali lagi ke dunia mimpi. Kalau perlu, saya akan menutup portal tersebut selamanya, walaupun artinya saya tidak akan pernah bisa bermimpi lagi.

Mengutip sebuah tulisan yang saya buat beberapa tahun yang lalu, maka saya cukupkan hati saya untuk mimpi ini.

Dan anehnya, saya merasakan tanda-tanda yang mungkin bisa diandaikan sebagai sebuah kesadaran semesta itu. Ketika benda-benda langit berbaris sejajar dan mengirimkan tanda-tanda yang sama ke penjuru dunia, sehingga apapun yang saya tidak bisa ucapkan dengan baik, akan didefinisikan kembali oleh penduduk semesta.

Salah satunya adalah beberapa baris kalimat yang tertulis di blog <a href="http://ndaru.curang.com">teman baik saya</a>.

<i>…Ketika kau tertidur semalam, hujan turun perlahan, di teras ada sisa jejaknya. Kau seperti pernah mengenal siapa yang singgah di sana. Yang tak sampai hati mengetuk pintumu dan berbalik pergi membawa mimpi yang ingin disampaikannya padamu…
</i>

Begitulah…

Tuxedo Bertopeng dan Sailor Moon…

May 9th, 2007 by poetra

Mamoru Chiba itu walaupun selalu mengejek Usagi Tsukino, tapi sebenarnya dia menyimpan perasaan yang tidak pernah bisa dia ungkapkan dengan baik. Bahwa sebenarnya, di dalam hatinya dia menyukai gadis yang dia panggil kepala onde-onde itu.
Bukan kepada Rey yang lebih cantik, atau kepada Ami Mizuno.

Mamoru Chiba, yang adalah Tuxedo Bertopeng, selalu menyayangi Usagi Tsukino yang merupakan Sailor Moon walaupun Usagi adalah gadis yang manja dan selalu tidak percaya diri.
Bukan kepada Rey “Sailor Mars” yang berani dan pintar, atau kepada Ami “Sailor Jupiter” yang lebih feminim.

Tuxedo Bertopeng, selalu percaya bahwa Sailor Moon memiliki kekuatan yang dia tidak sadari, yang bisa membawa perubahan kepada dunia. Tuxedo Bertopeng selalu percaya, bahwa walaupun Sailor Moon sepertinya biasa-biasa saja, manja, kekanak-kanakan, plin-plan, atau sebagainya, adalah gadis terbaik yang dia pernah kenal.

Dan Tuxedo Bertopeng selalu percaya, bahwa Sailor Moon adalah gadis yang dia cari, yang dia selalu bayangkan akan menjadi ibu dari Sailor Chibi Moon.

Karena itulah, kepada Sailor Moon Tuxedo Bertopeng jatuh hati…

meledak dengan tersenyum..

April 24th, 2007 by poetra

Hiyaaak, mari mengatur jadwal.

Deadline perpusnas di depan mata, no problem. Tapi lalu bagaimana dengan bank niaga? Ah, masih bisa lah disambi.

*tarik nafas dikit, senyum-senyum dikit*

Gimana dengan garuda indonesia?

Majalah harus udah terbit bulan depan?

Lalu, mau masuk studio?

Kemudian mau nyambung kuliah?

Urusan kantor?

Materi lagu..? Materi majalah..?

Ah, ya udahlah, nanti minta bantuan jin yang ngerjain prambanan aja.. santaiiii….
*tutup leptop, kemudian bakar kemenyan*

residu romantisme sialan

April 19th, 2007 by poetra

Sekitar 3 tahun yang lalu, saya pernah membuat sebuah tulisan kontroversial tentang otak manusia dan relativitas kenangan dengan sampah. Saya masih ingat betul tentang komentar orang-orang yang tidak setuju dengan saya, dan mungkin salah paham bahwa saya menganggap mantan-mantan saya adalah sampah. Tidak, saya tidak pernah menganggap mantan saya sebagai sampah, karena saya berbicara tentang residu romantis yang mengendap di otak saya.

Oh well, mau tidak mau saya harus mengakui bahwa residu romantis itu begitu melekat erat dalam otak. Jikalah boleh saya memilih untuk membuang beberapa bagian kenangan itu dari otak saya, saya akan sangat berterima kasih kepada dokter cinta yang bisa melakukannya. Karena kenyataannya, semua tidak semudah yang dibayangkan.

Katakanlah, untuk get over dari seseorang. Bagaimana mungkin saya bisa melupakan sebuah blueprint masa depan saya dengan seorang gadis begitu saja? Beberapa orang bisa berkata dengan mudah, “buang semua hal yang berhubungan dengan dia..”

It’s just not that easy.

Nomer handphone, yang saya hapal luar kepala. Jangan berbicara tentang foto, karena semua bayangan tentang senyum dan segala macam detail pakaiannya saya hafal mati. Alamat rumah? Sudahlah, saya bahkan bisa dalam 5 detik ber-teleport dari cubicle saya ke rumahnya dengan kecepatan hayalan. Hadiah? Ah, dia tidak pernah memberikan saya hadiah apapun, kecuali semangat dan inspirasi untuk 1 novel, 2 buku puisi, 400 post di blog, dan materi untuk 2 album rekaman.

Call me irrational.. call me pathetic..

Apa yang bisa–tepatnya, harus–saya hapus? Otak saya sendiri? The so called unconscious mind turns my brain into a gigantic-love-junkyard. Damn you, Freud.. what’s the cure?
Iya, Freud sudah berkali-kali berbicara tentang unconscious mind. Shakespear juga. Nietzche juga. Tapi kok ya menyelaminya itu susah sekali?

Call me irrational.. call me insane..

Akhirnya, kembali sebuah kenangan yang mengantarkan saya kepada kenangan lainnya. Cukup butuh satu benda kecil–atau satu kalimat kecil, atau pakaian yang sama, atau lagu yang sama, atau apalah–untuk merubuhkan semesta kesadaran yang tertatih mencoba untuk berdiri tegak. One small thing leads to another thing.

Seperti anggapan para ilmuwan kuantum, bahwa satu kepakan kecil kupu-kupu di sebuah sisi bumi bisa mengakibatkan kehancuran separuh sisi bumi lainnya. Persis. Persis. Persis…

Yah, akhirnya, sebuah puisi yang saya tulis 3 tahun yang lalu juga yang mampu berbicara.

aku ingin mencintaimu,
seperti momen inersia yang diungkapkan newton,
hanya diam sesaat,
lalu bergerak beraturan setiap kali dibutuhkan..
tapi aku belum bisa,
karena bahkan kau tak memiliki gravitasi,
karena kau bebas terbang dengan sayapmu..

aku lelah tetap menjadi gaya sentrifugal,
sementara kau menjadi sentripetal..
tidak bisakah kau hanya menjadi titik itu saja,
sementara aku yang menjadi gayanya?

bersediakah kau, untuk tetap diam,
dan aku yang memutari lingkaranmu?
agar aku bisa berjanji,
aku yang akan menjadi sentrifugalmu sepanjang nafasku
terjaga di setiap lelapmu,
dan melengkapimu dengan setiap kekuranganku

karena aku tak punya apa-apa..
karena aku, hanya punya hati ini,
dan cinta…
(2004-08-10 / 8:36:49 am)

dan akhirnya, ketika sudah tidak ada lagi kata yang bisa terucap ketika dia berulang tahun setahun lalu, yang terucap hanya,

keterjang gelap, rebahkan pekat..
kujungkir balikkan dunia, jika itu yang kau mau..
kuterangi langit malam, jika itu yang kau tunggu…

lalu kau akan tahu,
aku masih tersungkur untuk hatimu

Saya tahu ini omong kosong. I know that this kind of love is such a freakin’ bullshit, but I just can’t take her out of my mind. Somebody save me, please…

Yes, you…

March 29th, 2007 by poetra

I woke up this morning in boredom of my daily activity,
and I hate to take my aspirin just to heal my headache..
darn, I hate my life when I’m not with you.

But then, when I turn my mind way back to the old time,
when you replace my morning coffee and cigarets,
when your smile is my only power to survive this freakin’ jungle,
I have to double my aspirin dossage.. I miss you like hell..

Oh yes, I wake up early and earlier every single day,
and I go home late every night,
so then I can be someone that you will be proud of,
so then I will be able to take you to some fancy restaurant in town for supper..

So please, my dear enigma,
tell me what’s wrong with me, that I have to chase you like sisyphus
my love to you–somehow–has turned into my biggest sin
that I have to make you fall inlove with me every single minutes of my life.
no mistake, and no space for empathy..
yet I’m still invincible, you’re looking for a brighter sun..

I am a tiny star in this huge universe of yours,
just a single bit in your gigantic storage,
you’ll see me only if you need me.

Oh my dear preterhuman enigma,
I envy those who fall inlove and live in happy
why can’t you be the one I live my life with?

However, you could say that I am dreaming of an eternal love story
and yes, maybe I do live in some sort of surreality
because maybe, the only thing I have is serendipity

Can you hear me?

akhirnya, terjadi juga :(

March 15th, 2007 by poetra

It was happened so fast.

Pertama kali aku melewati tempat itu, aku sebetulnya sudah ragu untuk masuk. Ditambah lagi waktu yang sudah cukup malam, sehingga sekelilingnya terlihat sangat sepi. Angin yang bertiup kencang membuat udara malam menjadi sangat dingin.

Suasana yang aneh, mengingat Jakarta biasanya selalu panas, tidak pernah sedingin ini.

Pelan-pelan aku melangkah mendekati tempat itu. Ketika akhirnya aku sampai di depan pintunya, aku berdiri cukup lama, bahkan sempat menyalakan rokok dulu. Berpikir dulu terakhir kali sebelum mengambil keputusan, batinku.

Kulihat lagi jam di handphone-ku. Sudah mendekati jam 9 malam. Sekarang, atau harus menunggu lagi untuk waktu yang cukup lama.

Akhirnya kulangkahkan juga kakiku memasuki pintunya. Begitu masuk, langsung terlihat beberapa orang wanita yang duduk sambil membicarakan hal yang tidak begitu terdengar jelas di telingaku.

“Mau yang model bagaimana mas? Lihat-lihat saja dulu katalognya..” Wanita itu tersenyum, umurnya kurang lebih 25an, menurut taksiranku.

“Atau mau dipijat dulu?” Katanya sambil tersenyum ramah.

Aku hanya menggelengkan kepala. “Langsung saja deh mbak, saya buru-buru” sahutku dingin. Dia lalu menganggukkan kepala sambil mengajak aku menuju ke belakang.

Sepanjang jalan menuju ruangan tersebut, pikiranku melayang kemana-mana. Benarkah aku ingin melakukan ini? Tidakkah aku menyesalinya nanti?

Tiba-tiba ada tangan lembut yang menyentuh pundakku. Aku terkesiap, lalu memalingkan wajahku untuk menatapnya. Rambutnya yang panjang dan berwarna merah burgundy mengingatkan aku kepada seseorang.

“Tenang saja mas, gak usah tegang. Kayak baru pertama kali saja…” katanya sambil tersenyum nakal. “Langsung saja ya, udah mau hujan kayaknya diluar.” Lagi dia berbicara sendiri, mungkin hanya ingin beramah-tamah, tak mengharapkan jawabanku.

Sesaat setelah tangan itu menyentuh bahuku, aku seperti entah berada dimana. Pikiranku melayang-layang kembali, mengingat hal yang sepotong-sepotong muncul dan menyerbu bagaikan hujan frame demi frame foto. Tau-tau, aku sudah berkeringat dingin.

Apa yang aku lakukan? Kenapa aku tidak berpikir lebih dulu?

“Sudah hampir selesai kan mas? Gimana? Lebih segar kan?” Katanya seperti menunggu jawabanku.

“Kenapa mbak?” Aku meracau.

“Iya, sudah hampir selesai nih potongnya. Kurang pendek ya?” Sahutnya lagi.

Dan ketika aku melihat ke cermin, aku langsung terkesiap. TIDAAAKKK, rambutku seperti si Yoyo.

Akhirnya, setelah sekian lama mempertahankan prinsip untuk tidak memotong rambut, aku mengalah. Demi kebahagiaan dan menghindari tatapan gemas dari orang-orang yang berada di sekelilingku ketika sedang meeting di bank-bank ternama itu.

Sudahlah, yang sudah terjadi biarlah. Walaupun aku terlihat seperti Geovanni sekarang.

Hhhh, seketika aku melangkah keluar dari salon terkenal itu, hujan pun turun dengan derasnya. Air mata bumi menetes melihatku. Hanya saja, entah itu air mata sedih, atau malah air mata karena tertawa terbahak-bahak melihat tampangku, aku tak tahu.

Hiks…

kembalinya subuhku..

February 27th, 2007 by poetra

Selamat datang kembali, subuh yang menyayat hati. Sudah lama kita tidak bertemu, satu tahun tak terasa sudah berlalu.

Ada yang ingin aku tanyakan, mengapa engkau begitu senang jika aku tak bisa tertidur? Setelah mimpiku kau genggam sekian lama, lalu kau acuhkan, lalu kau genggam lagi lebih erat, untuk kemudian kau campakkan lebih jauh lagi.

Untuk apa, wahai subuh?

Bukannya aku ingin mengeluh, apalagi ingin membenci dan melupakan engkau, karena aku sudah sangat terbiasa hidup dengan bertanya dan bertanya. Akan tetapi, bukankah akan menjadi sebuah kebahagiaan jika kita bisa berdamai saja?

Bukankah akan lebih baik jika kita tidak harus terus-terusan bermain sembunyi dan lari?
…ataukah tidak?

Subuhku, manakah yang lebih baik untukku; melupakanmu dan hidup setengah hati, atau mengejarmu dan hidup setengah mati?

Ah, jangan cemberut seperti itu. Aku sama sekali bukan mengeluh, apalagi ingin membenci dan melupakan engkau. Aku hanya sekedar bertanya, kalau tidak dijawab pun tidak mengapa.

Bukankah aku sudah terlalu biasa hidup dengan bertanya dan terus bertanya?

Jangan khawatir, teruslah hidup berbahagia…

kepada peri kecil

January 27th, 2007 by poetra

Jika nanti suatu ketika kita berpapasan,
mungkin nafasku akan berhenti karena menatapmu
tapi kau tidak akan pernah memperhatikan,
kau bahkan mungkin tidak berhenti berjalan

Ketika nanti aku dapat mencium wangimu dari dekat,
bukan lagi sekedar memandang wajahmu dari kejauhan
kau mungkin sudah berpaling ke hati yang baru,
atau mungkin tersakiti hati lain yang tak pernah mencintaimu

Mereka, lelaki-lelaki itu, hanya ingin melihat engkau cantik
tapi tidak aku, karena di dekatmu aku pasti tidak berkutik

Waktu nanti cinta menyakitimu lagi, pujaanku
jangan biarkan air mata menetes di pipimu
tak perlu takut, jangan kau resah
aku masih akan memperhatikanmu dari jauh

Tidak, cantik..
Kau tidak akan pernah menemukan aku berucap seribu rayuan maut
karena perasaan yang terlalu dalam membuat hati menjadi bisu

Sampai nanti suatu saat,
wajahmu bukan lagi yang tercantik dan mereka berpaling,
dan tinggal aku yang masih terpana menatap wajahmu

Akankah kita sudah berkeriput waktu itu?